Nasi Jamblang

Siapa yang tidak kenal dengan kuliner yang satu ini , Nasi Jamblang. Kuliner yang satu ini memang unik, sehingga banyak wisatawan yang datang ke kota Cirebon akan memburunya. Karena kuliner nasi jamblang merupakan makanan khas Cirebon yang telah ada sejak jaman penjajahan Belanda, dan kini kian populer. Dibalik kepopuleran nasi jamblang ternyata masih banyak yang belum tahu mengenai sejarahnya. Bagaimana mereka bertahan di tengah persaingan hiruk pikuknya pertumbuhan dunia kuliner baru.

Nasi Jamblang merupakan salah satu kuliner khas Cirebon yang diburu warga lokal dan kini wisatawan yang semakin banyak berkunjung ke daerah yang dijuluki kota Udang ini.Mungkin masih banyak yang belum tahu kenapa disebut dengan nasi jamblang. Nasi jamblang sendiri adalah sekepal nasi yang dibungkus dengan daun jati. Ditambah dengan berbagai macam lauk pauk mulai dari tempe goreng, sayur tahu, sambal goreng yang terbuat dari irisan cabai dan cumi hitam, yang disajikan di atas nasi yang dibungkus daun jati.Mungkin ada yang berfikir bahwa nasi jamblang adalah nasi yang dibungkus dengan daun jamblang, namun bukan demikian halnya.

Salah satu kios yang menjual kuliner yang satu ini adalah kios Nasi jamblang Mang Dul.Namun si penjaga tokonya sendiri bukannya mang Dul, tapi anaknya Fitri.Mari kita mengenal lebih jauh kios nasi jamblang yang satu ini, Kios Nasi jamblang mang Dul.Fitri tampak sibuk melayani pembeli dari balik meja kasir di warung Nasi Jamblang Mang Dul yang menempati sebuah ruko atau rumah toko di pusat kota Cirebon.Di tengah ruangan ruko, tampak beberapa pembeli sibuk memilih berbagai lauk pauk yang terhidang di meja sepanjang 3 meter. Aroma daun jati dan berbagai masakan dapat tercium di kios ini.

Fitri mewarisi bisnis ini dari ayahnya Abdullah, Muhammad Abdullah atau yang dikenal dengan Mang Dul.Fitri menjelaskan “Kios dari saya kecil tahun 70 tuh cuma satu bakul mider, dekat kolam renang, ibu memang senang masak ambil nasi ke nenek, tambah banyak jadi nenek ga kuat jadi bikin sendiri,” kata dia.Fitri mengatakan sehari-hari dia menghabiskan sekitar dua kuintal beras untuk nasi, jumlah itu meningkat sampai dua kali lipat pada akhir pekan dan liburan panjang anak sekolah dan Idul Fitri.

Meski banyak pengusaha nasi Jamblang baru pun bermunculan. Tetapi warung Mang Dul tetap bertahan, Fitri pun membagikan resepnya.”Kalau saya jaganya itu kualitas rasa, udah tetap gitu, kalau orang makan akan cari sendiri, kadang orang Jakarta tahu beda rasanya, di sini bedanya sama tahu, sayur, daging, telur dadar, perkedel,itu beda rasanya, kalau beli di tempat lain tahu, orang tahu ciri khasnya tahunya Mang Dul ,” kata dia.